Minggu, 10 Maret 2019

Dwi Risnawati_NHW#6

Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 7 

NHW #6 "BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL"

 
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Setelah 2 tahun resign dari ibu yang bekerja di ranah publik, kini saya fokus sebagai ibu rumah tangga yang pembelajar. Selama ini saya cenderung menjalani rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga ya mengalir begitu saja. Tetapi setelah mendapat materi keenam di kelas matrikulasi ini, saya mulai menanyakan kembali peranku, sudah seprofesional apakah aku mengatur keluarga. Sekedar menjadi karyawan rumah tangga atau sudah bisa mencapai level manager?

Semua Ibu adalah Ibu Bekerja

Selama ini kita sering mengkotak-kotakkan peran wanita ke dalam dua hal; ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Ibu rumah tangga  mengacu untuk ibu yang bekerja di ranah domestik, sedangkan ibu bekerja mengacu pada para ibu yang bekerja di ranah publik. Debat panjang mempertentangkan antara lebih baik mana antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja pun seakan-akan tak pernah habis. Padahal mau jadi ibu rumah tangga ataupun jadi ibu bekerja, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik. Apapun yang kita pilih, entah itu memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik ataupun publik, cuma ada satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita.
Maksudnya selesai? Tentu saja kita harus bisa merasakan segala aktivitas di rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga bagi yang memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Begitu pula dengan ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik. 
Untuk mencari tahu apakah kita sudah selesai atau belum dengan manajemen rumah tangga kita, kita perlu jujur sama diri sendiri. Selama ini apa motivasi kita bekerja?
🍀Apakah masih ASAL KERJA, hanya untuk menggugurkan kewajiban? 
🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain? 
🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga kita merasa ini bagian dari peran kita sebagai Khalifah? 
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita. 
🍀Kalau kita masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, kita akan menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan. 
🍀Kalau kita bekerja didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi kita akan stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.
🍀Kalau kita bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi kita akan sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.
So, kalian sudah sampai di titik mana, dalam bekerja entah itu di ranah domestik ataupun publik? Kalau saya, untuk urusan mendokumentasikan aktivitas anak dan tulis menulis, saya sudah mencapai "PANGGILAN HATI". Meski masih sering tidak konsisten, tapi untuk urusan ini saya sudah sangat menikmati. Tapi ketika bicara ranah domestik alias pekerjaan rumah tangga, jujur saya masih sering di level "ASAL KERJA." Masih sering memasak, membersihkan rumah ya sekedarnya untuk menuntaskan kewajiban, bukan untuk dinikmati. Alhamdulillah dengan ketemu materi keenam kelas matrikulasi ini kembali diingatkan untuk MENIKMATI semua peran, tidak hanya di urusan tulis menulis, namun juga sebagai seorang ibu dan istri.

Be A Family Manager

Ngobrolin soal menikmati peran, peran seorang ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, dan bukan sekedar karyawan rumah tangga. Memang apa bedanya? Beda dong. Coba tuh kita lihat kalau di kantor-kantor, apa kerjaannya karyawan dan apa kerjaannya manager? Beda kan?
Manager itu lebih ke mengatur dan mengorganisasi pekerjaan agar lebih rapi, lebih cepat selesai dengan hasil yang lebih maksimal. Manager pastinya tidak selalu turun tangan, namun bisa mendelegasikan tugas ke karyawannya. Sedangkan karyawan jelas tugasnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan manager. Intinya manager itu giving command, sedangkan karyawan doing the command.
Biar peran kita sebagai manajer keluarga lebih maksimal, sudah saatnya bersikap dan berpikir selayaknya seorang manager. Caranya?
🍀Hargai diri kita sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai manager keluarga.
🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan kita kerjakan baik di rumah maupun di ranah publik dan PATUHI rencana tersebut.
🍀Buatlah skala prioritas. Ini penting banget ya. Dalam sehari pasti ada aja yang harus dikerjakan, tapi kita wajib bikin skala prioritas biar kita bisa mengatur mana yang lebih penting untuk dikerjakan lebih dulu. Dengan skala prioritas ini, kita bisa jauh lebih teratur dan nggak grambyang habis ini mau apa, terus ngapain lagi dan seterusnya.
🍀Bangun komitmen dan konsistensi kita dalam menjalankannya. Yuph, istiqomah memang rajanya tantangan. Pernah baca di sebuah artikel parenting, kalau mau membiasakan diri dengan sesuatu yang baru, lakukan hal itu setidaknya selama 40 hari berturut-turut agar menjadi kebiasaan permanen/habbit.

Menentukan Fokus Aktivitas

Fokus utama aktivitas saya ada di 3 hal disesuaikan dengan NHW dan road map belajar yang pernah disusun : Saya sebagai Individu, saya sebagai Ibu, saya sebagai Manajer Rumah.
Tugas saya sebagai Istri, menurut checklist indikator bisa digabung ke jadwal saya sebagai Individu, sebagai Ibu, dan sebagai Manajer Rumah
PERAN
NO
INDIKATOR
Specifik
Measurable
Achievable
Realistic
Timebond
Sebagai Individu
1.
Sholat diawal waktu
setiap sholat dilatih selama 3 bulan
Membuat managemen waktu agar waktu sholat tidak pas di tengah-tengah berkegiatan, Insya Allah bisa
Wajib dilakukan
Dilakukan maksimal 15 menit setelah azan
2.
Membaca buku dan latihan menulis
1 buku minimal selesai dalam 2 minggu
Setiap hari dilatih selama 2 bulan, insya Allah bisa
Hobi, dan memberi contoh pada anak agar cinta buku
30 menit senin-jumat jam 10.00
3.
Me time dengan bertahajud dan membaca Al Quran
Setiap hari selama 3 bulan
Insya Allah bisa
Amalan yang penting untuk bonding ke Maha pencipta
Min 2 rakaat jam 03.00 dan 2 ‘ain/4 halaman dalam 1 hari
Sebagai istri
1.
Sudah mandi, wangi, cantik sebelum suami pulang kerja dan menyambut suami serta menyuguhkan keperluan suami setelah pulang kerja
Setiap hari dilatih selama 3 bulan
Tidak terlalu sulit
Membangun kecintaan suami
Minimal beberes jam 16.00-17.00
2.
Bangun lebih awal dari suami untuk memenuhi kebutuhannya sebelum berangkat kerja
Setiap hari dilatih selama 2 bulan
Insya Allah bisa
Membangun kecintaan suami
Jam 04:30-05.00


Prinsip Mengelola Aktivitas

Menurut urutan pertanyaan di NHW 6, saya perlu mengenali, memilah dan mengkategorikan aktivitas saya di rumah. Prinsipnya adalah 3 hal berikut :
a. PUT FIRST THINGS FIRST 
Letakkan sesuatu yang utama dan terpenting menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. So, buatlah perencanaan sesuai skala prioritas kita hari ini. Jangan lupa untuk mengaktifkan fitur gadget sebagai organizer dan reminder kegiatan kita sehari-hari. 
b.ONE BITE AT A TIME  
Maksudnya lakukan pekerjaan setahap demi setahap, lakukan sekarang tanpa nanti dan pantang menunda, apalagi menumpuk pekerjaan. 
Nah ini... saya masih suka banget nih menunda pekerjaan. Misalnya, mau nulis, scrolling facebook dulu, eh ujung-ujungnya nggak jadi nulis malah bacain status orang. Mau bersih-bersih rumah mumpung si dede tidur, buka gadget nonton live sale baju baju muslim or mengunjungi marketplace, giliran si dede bangun rumah masih kaya kapal pecah. Hmmm.... 
c. DELEGATING 
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. 
Perlu kita ingat bahwa kita adalah manager, tentu saja bukan lantas menyerahkan begitu saja tugas kita ke orang lain, tapi kita harus buat panduannya, kita latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan kita. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi, begitu seterusnya 
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu,  usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Tugas saya adalah mendesain cara rumah ini dikelola, mendesain cara memfasilitasi anak-anak saya mandiri belajar, mengerjakan apa yang diprioritaskan karena itu layak dipentingkan, serta belajar mendelegasikan dengan baik hal-hal yang bisa didelegasikan.
Khusus untuk delegasi karena anak saya masih balita jadi untuk beberes rumah belum bisa didelegasikan kepada anak, namun kita memberi contoh dan mengajarkannya perlahan. Saya bisa mendelegasikan urusan siklus pakaian (cuci, jemur, setrika) dilakukan pada jasa loundry, atau apabila suami tidak begitu sibuk (biasanya ngantor hanya seminggu 3 kali) biasanya saya berbagi kerjaan rumah seperti pekerjaan cuci jemur, mengepel dan menyikat kamar mandi dilakukan suami, sedangkan setrika, menyapu, berberes mainan, memasak, menyuapi dan memandikan anak-anak saya yang kerjakan.

Menilai-Memilah-Menjadwalkan Aktivitas sesuai panduan NHW 6

Pertanyaan 1 : Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
Tiga aktivitas paling penting di rumah adalah :
  • Beribadah - Tazkiyatun Nafs, Tadabur Qur'an, Tahsin dan kajian rutin, untuk merecharge jiwa. Ini adalah aktivitas yang paling penting karena memang tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepadanya sebagaimana termaktub pada Al Quran Surat Adz Dzariyat: 56; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”  Beribadah sebenarnya tidak hanya menyangkut sholat, puasa, zakat, haji, kegiatan-kegiatan sehari-hari kita pun bisa bernilai ibadah jika kita niatkan lillahita'ala.
  • Memanage Urusan Diri dan Keluarga (domestik) - Sebagai seorang ibu, tentu saja prioritas utama setelah menyelesaikan kewajiban kepada Sang Pencipta adalah mengurus anak dan suami. Menurutku, yang termasuk dalam hal ini, meliputi menyediakan makanan sehat, menyiapkan pakaian yang layak, rumah yang tertata rapih, mendampingi anak beraktivitas, home education (indoor, outdoor). Pengembangan diri dalam bidang dan jurusan yang saya pilih adalah sejalan dengan pendidikan keluarga yg saya terapkan di rumah.
  • Membaca dan menulis - membaca buku-buku parenting dan menulis portofolio anak
Tiga aktivitas paling tidak penting adalah :
  1. Mengecek gadget - notification grup WA, FB dan IG yang berlanjut chating
  2. Pay Attention to Social Media too Much (terutama live jualan di FB) dan mengunjungi market place - hal ini dikarenakan saya berjualan olshop
  3. Berkumpul/mengobrol dengan teman sehabis kajian

Pertanyaan 2 : Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Baik aktivitas penting maupun aktivitas tidak penting, sama-sama menyita waktu, namun jika dilihat produktivitasnya sama sekali belum optimal.
  1. Mendampingi anak beraktivitas (indoor, outdoor)
  2. Mengecek gadget dan market place

Pertanyaan 3 : Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Dengan panduan ini, maka rutinitas kajian, mendampingi anak beraktivitas, memanage kebutuhan keluarga, dan membaca/menulis perlu masuk dalam jadwal harian secara dinamis. Tujuan utamanya menyerap dan mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari seputar Pendidikan anak dan keluarga.
Selain checklist menjadi Istri, tentu checklist Individu dan Ibu juga perlu ditinjau sebagai acuan.

Pertanyaan 4 : Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time  
Kandang waktu yang saya buat dibagi-bagi sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Pembagian dibuat per 1 jam, ada juga yang 2 jam, sehingga memudahkan saya mengingat cut off time, dan mudah-mudahan membudahkan disiplin menjaga semua yang direncanakan terlaksana dengan baik.

Pertanyaan 5 : Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Untuk hal ini, saya perlu rutin berdiskusi dengan suami, karena jadwal beliau sendiri sangat dinamis setiap hari. Ini menjadi penting supaya saya selalu bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan suami dan juga tetap mengelola keluarga dan rumah dengan baik.

Pertanyaan 6 : Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. 
Berikut adalah jadwal aktivitas saya yang saya buat, namun masih perlu dilatih supaya rutin dan menjadi kebiasaan yang mengakar.
Terdapat perubahan posisi waktu beberapa aktivitas jika dibandingkan dengan checklist indikator di NHW sebelumnya.




Pertanyaan 7 : Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik ? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
 
Jangka waktu pengamatan adalah dimulai hari Selasa 12 Maret 2019 sampai Selasa 19 Maret 2019. Setelah pengamatan selama 1 minggu, insya Allah akan dievaluasi dan direvisi jika dibutuhkan, untuk kemudian ditingkatkan dan digunakan selama 3 bulan ke depan.

Demikian pemilahan jadwal ini saya buat. Semoga Allah SWT menguatkan semangat dan ikhtiar saya menjadi manager keluarga yang handal. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin.






















































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar