NHW #6 "BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL"
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Setelah 2 tahun resign dari ibu yang bekerja di ranah publik, kini saya fokus sebagai ibu rumah tangga yang pembelajar. Selama ini saya cenderung menjalani rutinitas sebagai seorang ibu rumah
tangga ya mengalir begitu saja. Tetapi setelah mendapat materi keenam di kelas
matrikulasi ini, saya mulai menanyakan kembali peranku, sudah
seprofesional apakah aku mengatur keluarga. Sekedar menjadi karyawan
rumah tangga atau sudah bisa mencapai level manager?
Semua Ibu adalah Ibu Bekerja
Selama ini kita sering mengkotak-kotakkan peran wanita ke dalam dua hal; ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Ibu rumah tangga mengacu untuk ibu yang bekerja di ranah domestik, sedangkan ibu bekerja mengacu pada para ibu yang bekerja di ranah publik. Debat panjang mempertentangkan antara lebih baik mana antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja pun seakan-akan tak pernah habis. Padahal mau jadi ibu rumah tangga ataupun jadi ibu bekerja, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik. Apapun yang kita pilih, entah itu memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik ataupun publik, cuma ada satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita.
Maksudnya selesai? Tentu saja kita harus bisa merasakan segala aktivitas
di rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun.
Sehingga bagi yang memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik, akan
lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak.
Begitu pula dengan ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan
bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah
domestik.
Untuk mencari tahu apakah kita sudah selesai atau belum dengan manajemen
rumah tangga kita, kita perlu jujur sama diri sendiri. Selama ini apa
motivasi kita bekerja?
🍀Apakah masih ASAL KERJA, hanya untuk menggugurkan kewajiban?
🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga kita merasa ini bagian dari peran kita sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita.
🍀Kalau kita masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat
kejenuhan yang tinggi, kita akan menganggap pekerjaan ini sebagai
beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
🍀Kalau kita bekerja didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi kita akan stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.
🍀Kalau kita bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi kita
akan sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada.
Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa
MENGELUH.
So, kalian sudah sampai di titik mana, dalam bekerja
entah itu di ranah domestik ataupun publik? Kalau saya, untuk urusan mendokumentasikan aktivitas anak dan tulis menulis, saya sudah mencapai "PANGGILAN HATI". Meski
masih sering tidak konsisten, tapi untuk urusan ini saya sudah sangat
menikmati. Tapi ketika bicara ranah domestik alias pekerjaan rumah
tangga, jujur saya masih sering di level "ASAL KERJA." Masih sering
memasak, membersihkan rumah ya sekedarnya untuk menuntaskan kewajiban,
bukan untuk dinikmati. Alhamdulillah dengan ketemu materi keenam kelas
matrikulasi ini kembali diingatkan untuk MENIKMATI semua peran,
tidak hanya di urusan tulis menulis, namun juga sebagai seorang ibu dan
istri.
Be A Family Manager
Ngobrolin soal menikmati peran, peran seorang ibu sejatinya adalah
seorang manager keluarga, dan bukan sekedar karyawan rumah tangga.
Memang apa bedanya? Beda dong. Coba tuh kita lihat kalau di
kantor-kantor, apa kerjaannya karyawan dan apa kerjaannya manager? Beda
kan?
Biar peran kita sebagai manajer keluarga lebih maksimal, sudah saatnya
bersikap dan berpikir selayaknya seorang manager. Caranya?
🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan kita kerjakan baik di rumah maupun di ranah publik dan PATUHI rencana tersebut.
🍀Buatlah skala prioritas. Ini penting banget ya. Dalam sehari pasti ada
aja yang harus dikerjakan, tapi kita wajib bikin skala prioritas biar
kita bisa mengatur mana yang lebih penting untuk dikerjakan lebih dulu.
Dengan skala prioritas ini, kita bisa jauh lebih teratur dan nggak
grambyang habis ini mau apa, terus ngapain lagi dan seterusnya.
🍀Bangun komitmen dan konsistensi kita dalam menjalankannya. Yuph,
istiqomah memang rajanya tantangan. Pernah baca di sebuah artikel parenting,
kalau mau membiasakan diri dengan sesuatu yang baru, lakukan hal itu
setidaknya selama 40 hari berturut-turut agar menjadi kebiasaan
permanen/habbit.
Menentukan Fokus Aktivitas
Fokus utama aktivitas saya ada di 3 hal disesuaikan dengan NHW dan road map belajar yang pernah disusun : Saya sebagai Individu, saya sebagai Ibu, saya sebagai Manajer Rumah.Tugas saya sebagai Istri, menurut checklist indikator bisa digabung ke jadwal saya sebagai Individu, sebagai Ibu, dan sebagai Manajer Rumah
PERAN
|
NO
|
INDIKATOR
|
||||
Specifik
|
Measurable
|
Achievable
|
Realistic
|
Timebond
|
||
Sebagai Individu
|
1.
|
Sholat diawal waktu
|
setiap sholat dilatih selama 3 bulan
|
Membuat managemen waktu agar waktu sholat tidak pas di tengah-tengah
berkegiatan, Insya Allah bisa
|
Wajib dilakukan
|
Dilakukan maksimal 15 menit setelah azan
|
2.
|
Membaca buku dan latihan menulis
|
1 buku minimal selesai dalam 2 minggu
|
Setiap hari dilatih selama 2 bulan, insya Allah bisa
|
Hobi, dan memberi contoh pada anak agar cinta buku
|
30 menit senin-jumat jam 10.00
|
|
3.
|
Me time dengan bertahajud dan membaca Al Quran
|
Setiap hari selama 3 bulan
|
Insya Allah bisa
|
Amalan yang penting untuk bonding ke Maha pencipta
|
Min 2 rakaat jam 03.00 dan 2 ‘ain/4 halaman dalam 1 hari
|
|
Sebagai istri
|
1.
|
Sudah mandi, wangi, cantik sebelum suami pulang kerja dan menyambut
suami serta menyuguhkan keperluan suami setelah pulang kerja
|
Setiap hari dilatih selama 3 bulan
|
Tidak terlalu sulit
|
Membangun kecintaan suami
|
Minimal beberes jam 16.00-17.00
|
2.
|
Bangun lebih awal dari suami untuk memenuhi kebutuhannya sebelum
berangkat kerja
|
Setiap hari dilatih selama 2 bulan
|
Insya Allah bisa
|
Membangun kecintaan suami
|
Jam 04:30-05.00
|
|
Prinsip Mengelola Aktivitas
Menurut urutan pertanyaan di NHW 6, saya perlu mengenali, memilah dan mengkategorikan aktivitas saya di rumah. Prinsipnya adalah 3 hal berikut :
a. PUT FIRST THINGS FIRST
Letakkan sesuatu yang utama dan terpenting menjadi yang pertama. Kalau
buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. So, buatlah
perencanaan sesuai skala prioritas kita hari ini. Jangan lupa untuk
mengaktifkan fitur gadget sebagai organizer dan reminder kegiatan kita
sehari-hari.
b.ONE BITE AT A TIME
Maksudnya lakukan pekerjaan setahap demi setahap, lakukan sekarang tanpa nanti dan pantang menunda, apalagi menumpuk pekerjaan.
Nah ini... saya masih suka banget nih menunda pekerjaan. Misalnya, mau
nulis, scrolling facebook dulu, eh ujung-ujungnya nggak jadi nulis malah
bacain status orang. Mau bersih-bersih rumah mumpung si dede
tidur, buka gadget nonton live sale baju baju muslim or mengunjungi marketplace, giliran si dede bangun rumah
masih kaya kapal pecah. Hmmm....
c. DELEGATING
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.
Perlu kita ingat bahwa kita adalah manager, tentu saja bukan lantas
menyerahkan begitu saja tugas kita ke orang lain, tapi kita harus buat
panduannya, kita latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan kita. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi, begitu seterusnya
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu,
usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain
adalah pilihan paling akhir.
Tugas saya adalah mendesain cara rumah ini dikelola, mendesain cara
memfasilitasi anak-anak saya mandiri belajar, mengerjakan apa yang
diprioritaskan karena itu layak dipentingkan, serta belajar
mendelegasikan dengan baik hal-hal yang bisa didelegasikan.
Khusus untuk delegasi karena anak saya masih balita jadi untuk beberes rumah belum bisa didelegasikan kepada anak, namun kita memberi contoh dan mengajarkannya perlahan. Saya bisa mendelegasikan urusan siklus pakaian (cuci, jemur, setrika) dilakukan pada jasa loundry, atau apabila suami tidak begitu sibuk (biasanya ngantor hanya seminggu 3 kali) biasanya saya berbagi kerjaan rumah seperti pekerjaan cuci jemur, mengepel dan menyikat kamar mandi dilakukan suami, sedangkan setrika, menyapu, berberes mainan, memasak, menyuapi dan memandikan anak-anak saya yang kerjakan.
Khusus untuk delegasi karena anak saya masih balita jadi untuk beberes rumah belum bisa didelegasikan kepada anak, namun kita memberi contoh dan mengajarkannya perlahan. Saya bisa mendelegasikan urusan siklus pakaian (cuci, jemur, setrika) dilakukan pada jasa loundry, atau apabila suami tidak begitu sibuk (biasanya ngantor hanya seminggu 3 kali) biasanya saya berbagi kerjaan rumah seperti pekerjaan cuci jemur, mengepel dan menyikat kamar mandi dilakukan suami, sedangkan setrika, menyapu, berberes mainan, memasak, menyuapi dan memandikan anak-anak saya yang kerjakan.
Menilai-Memilah-Menjadwalkan Aktivitas sesuai panduan NHW 6
Pertanyaan 1 : Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
Tiga aktivitas paling penting di rumah adalah :
Pertanyaan 2 : Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Baik aktivitas penting maupun aktivitas tidak penting, sama-sama menyita waktu, namun jika dilihat produktivitasnya sama sekali belum optimal.
Pertanyaan 3 : Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Dengan panduan ini, maka rutinitas kajian, mendampingi anak beraktivitas, memanage kebutuhan keluarga, dan membaca/menulis perlu masuk dalam jadwal harian secara dinamis. Tujuan utamanya menyerap dan mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari seputar Pendidikan anak dan keluarga.
Selain checklist menjadi Istri, tentu checklist Individu dan Ibu juga perlu ditinjau sebagai acuan.
Pertanyaan 4 : Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time
Kandang waktu yang saya buat dibagi-bagi sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Pembagian dibuat per 1 jam, ada juga yang 2 jam, sehingga memudahkan saya mengingat cut off time, dan mudah-mudahan membudahkan disiplin menjaga semua yang direncanakan terlaksana dengan baik.
Pertanyaan 5 : Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Untuk hal ini, saya perlu rutin berdiskusi dengan suami, karena jadwal beliau sendiri sangat dinamis setiap hari. Ini menjadi penting supaya saya selalu bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan suami dan juga tetap mengelola keluarga dan rumah dengan baik.
Pertanyaan 6 : Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
Berikut adalah jadwal aktivitas saya yang saya buat, namun masih perlu dilatih supaya rutin dan menjadi kebiasaan yang mengakar.
Terdapat perubahan posisi waktu beberapa aktivitas jika dibandingkan dengan checklist indikator di NHW sebelumnya.
Pertanyaan 7 : Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik ? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Jangka waktu pengamatan adalah dimulai hari Selasa 12 Maret 2019 sampai Selasa 19 Maret 2019. Setelah pengamatan selama 1 minggu, insya Allah akan dievaluasi dan direvisi jika dibutuhkan, untuk kemudian ditingkatkan dan digunakan selama 3 bulan ke depan.
Demikian pemilahan jadwal ini saya buat. Semoga Allah SWT menguatkan semangat dan ikhtiar saya menjadi manager keluarga yang handal. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin.
- Beribadah - Tazkiyatun Nafs, Tadabur Qur'an, Tahsin dan kajian rutin, untuk merecharge jiwa. Ini adalah aktivitas yang paling penting karena memang tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepadanya sebagaimana termaktub pada Al Quran Surat Adz Dzariyat: 56; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Beribadah sebenarnya tidak hanya menyangkut sholat, puasa, zakat, haji, kegiatan-kegiatan sehari-hari kita pun bisa bernilai ibadah jika kita niatkan lillahita'ala.
- Memanage Urusan Diri dan Keluarga (domestik) - Sebagai seorang ibu, tentu saja prioritas utama setelah menyelesaikan kewajiban kepada Sang Pencipta adalah mengurus anak dan suami. Menurutku, yang termasuk dalam hal ini, meliputi menyediakan makanan sehat, menyiapkan pakaian yang layak, rumah yang tertata rapih, mendampingi anak beraktivitas, home education (indoor, outdoor). Pengembangan diri dalam bidang dan jurusan yang saya pilih adalah sejalan dengan pendidikan keluarga yg saya terapkan di rumah.
- Membaca dan menulis - membaca buku-buku parenting dan menulis portofolio anak
- Mengecek gadget - notification grup WA, FB dan IG yang berlanjut chating
- Pay Attention to Social Media too Much (terutama live jualan di FB) dan mengunjungi market place - hal ini dikarenakan saya berjualan olshop
- Berkumpul/mengobrol dengan teman sehabis kajian
Pertanyaan 2 : Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Baik aktivitas penting maupun aktivitas tidak penting, sama-sama menyita waktu, namun jika dilihat produktivitasnya sama sekali belum optimal.
- Mendampingi anak beraktivitas (indoor, outdoor)
- Mengecek gadget dan market place
Pertanyaan 3 : Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Dengan panduan ini, maka rutinitas kajian, mendampingi anak beraktivitas, memanage kebutuhan keluarga, dan membaca/menulis perlu masuk dalam jadwal harian secara dinamis. Tujuan utamanya menyerap dan mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari seputar Pendidikan anak dan keluarga.
Selain checklist menjadi Istri, tentu checklist Individu dan Ibu juga perlu ditinjau sebagai acuan.
Pertanyaan 4 : Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time
Kandang waktu yang saya buat dibagi-bagi sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Pembagian dibuat per 1 jam, ada juga yang 2 jam, sehingga memudahkan saya mengingat cut off time, dan mudah-mudahan membudahkan disiplin menjaga semua yang direncanakan terlaksana dengan baik.
Pertanyaan 5 : Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Untuk hal ini, saya perlu rutin berdiskusi dengan suami, karena jadwal beliau sendiri sangat dinamis setiap hari. Ini menjadi penting supaya saya selalu bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan suami dan juga tetap mengelola keluarga dan rumah dengan baik.
Pertanyaan 6 : Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
Berikut adalah jadwal aktivitas saya yang saya buat, namun masih perlu dilatih supaya rutin dan menjadi kebiasaan yang mengakar.
Terdapat perubahan posisi waktu beberapa aktivitas jika dibandingkan dengan checklist indikator di NHW sebelumnya.
Jangka waktu pengamatan adalah dimulai hari Selasa 12 Maret 2019 sampai Selasa 19 Maret 2019. Setelah pengamatan selama 1 minggu, insya Allah akan dievaluasi dan direvisi jika dibutuhkan, untuk kemudian ditingkatkan dan digunakan selama 3 bulan ke depan.
Demikian pemilahan jadwal ini saya buat. Semoga Allah SWT menguatkan semangat dan ikhtiar saya menjadi manager keluarga yang handal. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar